Poetic Conversation
Matanya melalang.
Hatinya menggarang.
Tangannya berkarang.
Dekapmu harusnya binal.
Ciummu harusnya mahal.
Hatimu harusnya kekal.
Ego.
Kata kecil yang pahit.
Yang kutelan sampai sakit.
Tapi tetap saja membukit.
Tidur saja telentang.
Nangis saja lantang.
Gubrisan tak juga datang.
Dinginnya tatapan.
Bekunya genggaman.
Kakunya ucapan.
Apakah masih ada harapan?
Raga itu harusnya di sisi.
Ada daya tak ada porsi.
Kau tak juga mengerti.
Aku pantas dicintai.
Mau sampai gila.
Mau sampai tua.
Mau sampai mati.
Aku masih kau miliki.
Hanya ada satu yang pasti.
Yang selalu mengisi hati.
Tidakkah kau mengerti.
Aku sedang berbenah diri.
Pantaskah aku dicintai?
Bila selalu tak di sisi.
Pantaskah ku dimiliki?
Bila kau anggap tak perduli.
Percayalah hati ini getir.
Bukan hanya nafsu di hati.
Cintakah itu namanya?
Yang pasti kuharap kau mengerti.
Lagi-lagi aku jadi pihak yang kalah.
Dan kau selalu menang dengan rintangan.
Memang ini bukan permainan.
Tapi sebuah hati yang lelah jadi guyonan.
Jangan merasa kalah bila tidak salah.
Kita bukan dua kubu bertentangan.
Kita saling memiliki.
Hilangkan pikiranmu itu.
Percuma akan menambah beban.
Kita hanya perlu lebih saling mengerti.
Kadang aku merasa kau mengerti.
Hanya dengan sikap ku berkata.
Kuharap kau mengerti.
Namun aku salah.
Sulit untuk berkata sulit tuk bicara.
Sulit tuk dimengerti sulit tuk dipahami.
Butuh waktu tuk memahami.
Hingga kabut semua pergi.
Tak perlu kau tangisi.
Tak perlu kau sakiti.
Semua kan terjadi sendiri.
Hingga saat kukecup dirimu
Kuharap kau mengerti.
Aku hanya tak ingin membagi dirimu.
Dada ini sesak oleh hembusan nafas.
Tak bisakah kau lihat.
Bahwa kasihku membuas meluas.
Tapi tetap satu batas.
Kita kekurangan kata.
Kita kekurangan percaya.
Namun tak kekurangan arti.
Sehingga cinta tak pernah basi.
Jiwa ini memang bebas.
Selalu terbang lepas.
Namun ingat akan sangkarnya.
Dan selalu kembali lagi.
~ You’re my home that I will always come to…
Aku bukan sangkar.
Aku adalah sarang.
Pernahkah aku membelenggu?
Tentu saja tidak sayang.
Kau adalah sarang penuh madu…
September 26th, 2006 at 1:29 am
ini cerminan perasaan pribadi share?
October 30th, 2006 at 4:17 am
2 tahun yang lalu komitmen kamu ucapkan dengan lugu
Kemudian kamu hancurkan dengan kemunafikan
Seperti angin kehancuran penuhi hidup aku
Apa kata mereka ?
Gemingan kata ganggu tidur aku
Reaksi laku ejek senyum aku
Puas kamu benamkan kecewa aku
Kamu sandingkan pilihan hidup aku
Untuk kehormatan yang sia - sia
Sadarkah kamu akan kebencian aku ?
Doa dan caci ikuti langkah kamu
Ratap dan tangis pejamkan mimpi aku
Menari saat aku bangun
Maaf terbuai dari pikir aku
Happy valentine………….
Melihat takdir menunggu bahagia
Sharon, salam kenal.
Kamu punya waktu untuk ketemu ?
Best regards,
Lucky Perkasa
October 31st, 2006 at 4:36 am
Ini monolog ato dialog? (artinya: yang nulis lo sendiri share? ato ada rekan?)
November 24th, 2006 at 12:50 am
knp banyak orang yg lagi patah hati ya lately???
December 4th, 2006 at 3:04 am
It’s a two way dialoque Will… That’s why I called this one conversation!
Buat Iko.. sebenernya gak patah hati juga sich… lebih kepada komunikasi tulisan sebuah pasangan.
Lucky, like I always say I don’t believe in meeting people from the internet unless I’ve met them before. Thanks for your entry thou!
December 11th, 2006 at 5:41 am
two way monologue kali…
sori ngotot