Archive for September, 2006

Poetic Conversation

Friday, September 15th, 2006

Matanya melalang.

Hatinya menggarang.

Tangannya berkarang.

Dekapmu harusnya binal.

Ciummu harusnya mahal.

Hatimu harusnya kekal.

Ego.

Kata kecil yang pahit.

Yang kutelan sampai sakit.

Tapi tetap saja membukit.

Tidur saja telentang.

Nangis saja lantang.

Gubrisan tak juga datang.

Dinginnya tatapan.

Bekunya genggaman.

Kakunya ucapan.

Apakah masih ada harapan?

Raga itu harusnya di sisi.

Ada daya tak ada porsi.

Kau tak juga mengerti.

Aku pantas dicintai.

Mau sampai gila.

Mau sampai tua.

Mau sampai mati.

Aku masih kau miliki.

Hanya ada satu yang pasti.

Yang selalu mengisi hati.

Tidakkah kau mengerti.

Aku sedang berbenah diri.

Pantaskah aku dicintai?

Bila selalu tak di sisi.

Pantaskah ku dimiliki?

Bila kau anggap tak perduli.

Percayalah hati ini getir.

Bukan hanya nafsu di hati.

Cintakah itu namanya?

Yang pasti kuharap kau mengerti.

Lagi-lagi aku jadi pihak yang kalah.

Dan kau selalu menang dengan rintangan.

Memang ini bukan permainan.

Tapi sebuah hati yang lelah jadi guyonan.

Jangan merasa kalah bila tidak salah.

Kita bukan dua kubu bertentangan.

Kita saling memiliki.

Hilangkan pikiranmu itu.

Percuma akan menambah beban.

Kita hanya perlu lebih saling mengerti. 

Kadang aku merasa kau mengerti.

Hanya dengan sikap ku berkata.

Kuharap kau mengerti.

Namun aku salah.

Sulit untuk berkata sulit tuk bicara.

Sulit tuk dimengerti sulit tuk dipahami.

Butuh waktu tuk memahami.

Hingga kabut semua pergi.

Tak perlu kau tangisi.

Tak perlu kau sakiti.

Semua kan terjadi sendiri.

Hingga saat kukecup dirimu

Kuharap kau mengerti.

Aku hanya tak ingin membagi dirimu.

Dada ini sesak oleh hembusan nafas.

Tak bisakah kau lihat.

Bahwa kasihku membuas meluas.

Tapi tetap satu batas.

Kita kekurangan kata.

Kita kekurangan percaya.

Namun tak kekurangan arti.

Sehingga cinta tak pernah basi.

Jiwa ini memang bebas.

Selalu terbang lepas.

Namun ingat akan sangkarnya.

Dan selalu kembali lagi.

~ You’re my home that I will always come to…

Aku bukan sangkar.

Aku adalah sarang.

Pernahkah aku membelenggu?

Tentu saja tidak sayang.

Kau adalah sarang penuh madu…

Harum Candu

Tuesday, September 5th, 2006

Bagai candu
Gores saja dalam nadi
Ingin kecap sekali lagi

Getar ketir menggelepar
Kusesap harum bumi
Di kelir pelupuk mata

Lupa saja dunia
Serah tangis atau tawa
Biar langit jadi saksi
Hilangnya batas nirwana

Busungkan dada
Torehkan cinta
Dalam hati yang sedang luka

Tak usah lagi tanya
Karena raga tak lagi maya

Tak perlu tunggu waktu
Karena cabikan sudah ragu

Peluh dikeluh
Dan dalam satu tarikan nafas, kita adalah satu.

~ the result of a week waiting in vain…